LOMBOK TIMUR – Tim dosen Universitas Mataram melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan inovasi polikultur lobster pasir (Panulirus homarus) dan ikan baronang (Siganus sp.) pada sistem Keramba Jaring Apung (KJA) bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Segare Lauk di Dusun Ujung Betok, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.

Program ini dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2026, sebagai upaya meningkatkan kapasitas pembudidaya sekaligus memperkenalkan alternatif sistem budidaya laut yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. Selama ini, sebagian besar anggota KUB Segare Lauk masih mengandalkan sistem monokultur lobster pasir. Selain itu, ruang pada kolom air KJA belum dimanfaatkan secara optimal, sementara pertumbuhan alga, lumut, dan organisme penempel pada jaring menyebabkan pembudidaya harus melakukan pembersihan secara rutin.

Melalui pendekatan polikultur, lobster pasir dipelihara bersama ikan baronang dalam satu sistem KJA dengan memanfaatkan perbedaan relung ekologis kedua komoditas. Lobster cenderung memanfaatkan bagian bawah keramba, sementara ikan baronang menggunakan kolom air dan berpotensi memanfaatkan alga serta organisme penempel pada jaring sebagai sumber pakan. Dengan demikian, ruang budidaya dapat dimanfaatkan lebih optimal sekaligus membuka peluang diversifikasi komoditas bagi pembudidaya.

Kegiatan pengabdian dilaksanakan secara bertahap melalui sosialisasi, pelatihan, praktik lapangan, pendampingan, dan evaluasi. Tim memberikan pelatihan mengenai persiapan KJA, penentuan padat tebar, teknik aklimatisasi dan penebaran benih, manajemen pakan, hingga pemantauan kualitas air. Dalam kegiatan praktik, pembudidaya juga dilibatkan secara langsung dalam proses packing, aklimatisasi, penebaran benih, serta pengukuran parameter lingkungan budidaya.

Sebagai bagian dari penerapan teknologi di tingkat pembudidaya, tim pengabdian mendistribusikan 500 ekor benih ikan baronang dan 240 ekor benih lobster pasir, serta memberikan dukungan sejumlah peralatan untuk menunjang kegiatan budidaya, termasuk peralatan transportasi benih dan pengukuran kualitas air. Padat tebar yang diperkenalkan mengacu pada hasil penelitian sebelumnya, yaitu 30 ekor lobster pasir dan 10 ekor ikan baronang per meter kubik.

Hasil pendampingan awal menunjukkan bahwa ikan baronang mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan KJA dan menunjukkan respons aktif terhadap sumber pakan alami di sekitar jaring. Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman dan keterampilan anggota kelompok dalam menerapkan budidaya terintegrasi serta memperkenalkan pentingnya pengelolaan kualitas lingkungan dalam keberhasilan budidaya laut.

Menurut tim pengabdian, inovasi ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk mendorong pembudidaya agar tidak bergantung pada satu komoditas.

“Polikultur lobster dan baronang diharapkan dapat menjadi alternatif budidaya yang mampu mengoptimalkan ruang KJA, meningkatkan diversifikasi produksi, serta mendukung praktik budidaya laut yang lebih berkelanjutan,”.

Program ini melibatkan dosen dari Program Studi Budidaya Perairan dan Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Mataram, serta dilaksanakan bersama masyarakat pembudidaya KUB Segare Lauk. Kegiatan mendapat dukungan pendanaan dari LPPM Universitas Mataram melalui hibah PNBP Skema Pengabdian Kemitraan.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat pesisir, inovasi polikultur lobster–baronang diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu model budidaya laut yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi pembudidaya di wilayah pesisir Lombok Timur.