Dosen Unram Bangun Dua Unit KOMBUJA untuk Budidaya Kepiting Bakau Ramah Lingkungan di Ekowisata Mangrove Bagek Kembar

Lombok Barat, [22 September 2026] – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), memperkenalkan teknologi KOMBUJA (Pagar Kombinasi Bambu dan Jaring) kepada masyarakat pesisir di Kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Teknologi ini menjadi alternatif budidaya kepiting bakau (Scylla spp.) yang ramah lingkungan dan dapat terintegrasi dengan kegiatan wisata mangrove.

Kegiatan yang didanai melalui skema Pengabdian Internal PNBP Universitas Mataram tahun 2026 ini diketuai oleh Alis Mukhlis, S.Pi., M.Si., bersama anggota tim Septiana Dwiyanti, S.Pi., M.Si., Thoy Batun Citra Rahmadani, S.Pi., M.Si., Rizky Regina Kawirian, M.Si., serta mahasiswa Rio Sang Putra. Mitra kegiatan adalah Kelompok Yayasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar, bagian dari pengelola kawasan yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) seluas 49,5 hektar sejak 2018.

Selama ini, sebagian besar anggota kelompok mengandalkan hasil tangkapan kepiting dari alam yang ukurannya bervariasi dan jumlahnya tidak menentu. Meski banyak yang telah menangkap kepiting secara tradisional selama lebih dari sepuluh tahun, hanya sedikit yang pernah mencoba membudidayakannya, dan hasilnya pun belum optimal karena keterbatasan pengetahuan teknis.

“Kawasan Bagek Kembar punya potensi besar untuk budidaya kepiting bakau yang berkelanjutan. Melalui KOMBUJA, kami ingin masyarakat tidak lagi hanya bergantung pada tangkapan alam, tetapi bisa memelihara kepiting dengan cara yang tetap menjaga kelestarian mangrove,” ujar Alis Mukhlis.

Workshop Dihadiri 20 Peserta

Rangkaian kegiatan diawali dengan survei lokasi dan sosialisasi program kepada pengurus dan anggota Yayasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar. Selanjutnya, tim menggelar workshop yang dihadiri oleh 20 orang peserta. Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan materi tentang konsep silvofishery, prinsip kerja dan keunggulan teknologi KOMBUJA dibandingkan metode budidaya konvensional, teknik konstruksi, hingga manajemen budidaya kepiting bakau. Diskusi interaktif juga dilakukan untuk menyepakati lokasi, jadwal, dan mekanisme pembangunan unit budidaya.

Dua Unit KOMBUJA Telah Dibangun

Setelah workshop, tim bersama anggota mitra membangun dua unit KOMBUJA, masing-masing berukuran 4 x 8 meter. Pembangunan dilakukan secara gotong royong, dengan mitra turut menyumbangkan sebagian material lokal dan tenaga kerja.

Konstruksi KOMBUJA menggunakan tiang bambu berdiameter 6–8 cm dengan umur minimal tiga tahun, yang ditanam ke dalam tanah dasar. Bagian bawah struktur berupa pagar bambu setinggi 60 cm yang ditanaman sedalam 40 cm dengan jarak antarbilah diatur rapat rapat untuk mencegah kepiting keluar namun tetap menjaga sirkulasi air dan oksigen. Bagian atasnya dilengkapi jaring polyethylene setinggi 1 meter sebagai pelindung agar kepiting tidak memanjat keluar dari area budidaya.

“Metode ini sederhana, bahannya mudah didapat, dan tidak merusak mangrove. Harapannya, masyarakat bisa mereplikasi sendiri di lokasi lain,” tambah Alis.

Mendukung Moto 3E

Kegiatan ini selaras dengan moto pengelola kawasan, yaitu “3E: Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi”. Selain menjadi sarana budidaya, unit KOMBUJA juga diharapkan menjadi objek wisata edukatif bagi pengunjung yang ingin mengenal budidaya kepiting bakau berbasis mangrove.

Program ini juga mendukung implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melalui pelibatan mahasiswa, serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), 14 (Ekosistem Lautan), dan 15 (Ekosistem Daratan). Ke depan, tim akan melanjutkan pelatihan manajemen operasional, penebaran benih, pendampingan berkala, serta menyusun panduan teknis KOMBUJA sebagai referensi bagi kawasan pesisir lainnya.