Lombok Timur – Upaya meningkatkan keberlanjutan budidaya udang vaname skala kecil terus dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Mitra Tunjung Biru, Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan ini mengangkat tema “Penerapan Sistem Biosekuriti sebagai Pengendali Penyakit pada Budidaya Udang Vannamei Skala Kolam Terpal di Mitra Tunjung Biru Desa Tanjung Luar” dan difokuskan pada penguatan kemampuan pembudidaya dalam mencegah penyakit melalui pendekatan yang lebih terencana dan preventif. Mitra Tunjung Biru merupakan kelompok pembudidaya udang vaname skala rumah tangga yang memanfaatkan kolam terpal sebagai media pemeliharaan. Sistem ini dinilai relatif fleksibel serta dapat dikembangkan oleh masyarakat dengan keterbatasan lahan dan modal. Kelompok Tunjung Biru sendiri terbentuk sejak tahun 2023 atas inisiasi pemuda setempat salah satunya Muhsin, S.Pi.,M.Si yang merupakan alumni Budidaya Perairan Universitas Mataram.
Berdasarkan hasil survei dan diskusi awal, tim pengabdian menemukan bahwa pengetahuan mitra mengenai penyakit udang, gejala klinis, serta tindakan pencegahan masih perlu ditingkatkan. Penanganan penyakit sebelumnya cenderung dilakukan setelah gangguan kesehatan muncul, sementara penerapan biosekuriti, pemanfaatan probiotik, dan monitoring kualitas air belum dilakukan secara optimal. Menjawab kondisi tersebut, kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari survei dan identifikasi, sosialisasi dan edukasi, hingga pelatihan teknis. Materi yang diberikan mencakup pengenalan jenis penyakit udang dan faktor penyebabnya, penerapan biosekuriti, manajemen kualitas air, penggunaan probiotik, manajemen pemberian pakan, serta penerapan teknologi pendukung budidaya. Kegiatan dilakukan melalui ceramah, diskusi interaktif, dan praktik langsung agar materi lebih mudah diterapkan oleh pembudidaya.
Dalam pelatihan biosekuriti, mitra diperkenalkan pada prosedur persiapan kolam, filtrasi dan desinfeksi air, sanitasi peralatan, serta pembatasan akses ke area budidaya sebagai langkah untuk mengurangi risiko masuk dan menyebarnya patogen. Penggunaan probiotik juga menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan ini. Mitra diberikan pemahaman mengenai penggunaan probiotik secara terukur melalui media air maupun pakan. Penerapan probiotik diarahkan untuk mendukung keseimbangan mikroba, membantu pengelolaan kualitas air, serta menunjang kesehatan pencernaan dan daya tahan udang. Pendekatan ini diposisikan sebagai bagian dari manajemen kesehatan terpadu dan tetap dikombinasikan dengan penerapan biosekuriti serta monitoring kualitas air secara konsisten.
Tim pengabdian menekankan bahwa keberhasilan budidaya udang vaname tidak hanya ditentukan oleh jumlah pakan atau pertumbuhan udang, tetapi juga oleh kemampuan pembudidaya menjaga lingkungan pemeliharaan tetap stabil. Pada sistem kolam terpal, perubahan suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, dan bahan organik dapat terjadi relatif cepat sehingga diperlukan pemantauan yang lebih rutin. Kondisi lingkungan yang kurang baik dapat menurunkan daya tahan udang dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Melalui kegiatan ini, tim berharap Mitra Tunjung Biru dapat secara bertahap mengubah pola penanganan penyakit dari pendekatan reaktif menjadi lebih preventif. Penerapan biosekuriti, penggunaan probiotik secara tepat, pengelolaan kualitas air, manajemen pakan, serta deteksi dini diharapkan menjadi kebiasaan baru dalam operasional budidaya. Program juga diarahkan agar mitra mampu melakukan pengendalian penyakit secara lebih mandiri dan berkelanjutan.



