Uji coba dua tahap menunjukkan pentingnya kepadatan tebar, pengawasan air, dan aerasi darurat pada kolam yang bergantung pada saluran terbuka

MATARAM  Kelompok Pemuda Irigasi di Kelurahan Taman Sari, Kota Mataram, mengembangkan budidaya ikan nila dengan memanfaatkan kolam yang terhubung langsung ke saluran irigasi. Bersama tim pengabdian Universitas Mataram, sebanyak 15 anggota kelompok belajar mengelola kepadatan ikan, pakan, aliran air, dan risiko perubahan kualitas air melalui praktik langsung di lokasi.

Saluran irigasi menawarkan sumber air yang terus mengalir sehingga cocok dimanfaatkan untuk budidaya. Aliran tersebut membantu memasok oksigen dan membawa keluar sisa pakan serta kotoran ikan. Namun, sumber air terbuka juga membawa risiko. Saat hujan lebat, air dari hulu dapat berubah keruh, membawa lumpur dan sampah, serta mengalami perubahan pH dalam waktu singkat.

Sebelum penebaran, kolam dibersihkan dari lumpur, sampah, lumut, dan tumbuhan liar. Kolam tidak dapat dikeringkan sepenuhnya karena terdapat rembesan dari saluran irigasi yang posisinya lebih tinggi. Sebagai gantinya, kolam dibilas secara intensif. Retakan pada dinding ditutup menggunakan mortar, sedangkan saluran masuk dan keluar diperiksa agar air dapat diatur dengan baik.

Kelompok juga menerapkan pipa geser yang dapat dimiringkan. Pipa ini memungkinkan debit air masuk dan keluar diatur dengan cepat sesuai kondisi saluran. Saringan dipasang untuk menahan sampah dan mencegah ikan keluar. Aerator disiapkan sebagai sumber oksigen cadangan, sedangkan alat pemberi pakan otomatis digunakan ketika anggota tidak dapat hadir pada jadwal pemberian pakan.

Pada penebaran pertama, kepadatan ikan mencapai sekitar 83 ekor per meter persegi. Ikan tumbuh hingga bobot rata-rata sekitar 50 gram pada hari ke-47. Gangguan muncul setelah hujan lebat. Air irigasi menjadi sangat keruh dan pH turun dari 7,5 menjadi 5,6, sedangkan saluran pemasukan tidak segera ditutup. Perubahan air yang mendadak tersebut diikuti kematian ikan dalam jumlah tinggi.

Kejadian itu menjadi bahan evaluasi penting bagi kelompok. Menutup saluran pemasukan memang dapat mencegah air keruh masuk ke kolam, tetapi penghentian aliran juga mengurangi pasokan oksigen. Pengukuran di lokasi menunjukkan bahwa oksigen terlarut dapat turun dari sekitar 6–7 miligram per liter menjadi kurang dari 3 miligram per liter dalam waktu sekitar satu jam setelah aliran dihentikan.

Karena itu, penutupan pipa pemasukan tidak boleh dilakukan sebagai tindakan tunggal. Ketika air dari hulu memburuk, kelompok harus menutup aliran, segera menyalakan aerator, mengurangi atau menghentikan pakan, mengukur oksigen terlarut, dan mengamati perilaku ikan. Aliran dibuka kembali secara bertahap setelah kondisi air sumber membaik.

Pada penebaran kedua, kepadatan diturunkan menjadi sekitar 33 ekor per meter persegi. Anggota kelompok memperketat pengawasan terhadap cuaca, warna air, sampah, dan kelancaran saluran. Pembagian tugas juga diperjelas agar perubahan kondisi dapat segera ditangani. Hingga hari ke-75, ikan mencapai bobot rata-rata sekitar 150 gram dan dipelihara dalam kondisi yang lebih stabil.

Hasil dua tahap pemeliharaan itu menunjukkan bahwa jumlah ikan harus disesuaikan dengan kemampuan kolam dan kesiapan kelompok melakukan pengawasan. Kepadatan yang dapat dipertahankan saat aliran normal belum tentu aman ketika air berhenti atau kualitas air dari hulu berubah. Karena itu, keputusan tebar tidak cukup hanya berdasarkan luas kolam.

Pemberian pakan juga harus mengikuti respons ikan. Alat otomatis membantu menjaga jadwal, tetapi jumlah pakan yang keluar tetap perlu diperiksa. Ketika ikan tidak aktif, berkumpul di permukaan, atau tidak merespons pakan seperti biasanya, pemberian pakan perlu dikurangi dan kondisi air harus segera diperiksa.

Agar kegiatan dapat berlanjut, kelompok didorong membuat jadwal piket dan catatan harian. Catatan tersebut memuat jumlah pakan, ikan mati, hasil pengukuran pH dan oksigen, kekeruhan, penggunaan aerator, serta bobot ikan saat sampling. Data sederhana ini membantu kelompok mengevaluasi pertumbuhan dan mengambil keputusan pada siklus berikutnya.

Pengalaman Kelompok Pemuda Irigasi memperlihatkan bahwa saluran irigasi dapat menjadi sumber kegiatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara hati-hati. Teknologi yang digunakan relatif sederhana, tetapi keberhasilannya bergantung pada kecepatan membaca perubahan air dan ketepatan tindakan di lapangan. Bagi kelompok, kegagalan pada penebaran pertama tidak berhenti sebagai kerugian, melainkan menjadi dasar untuk memperbaiki sistem pemeliharaan berikutnya.

Model ini dapat diterapkan di lokasi lain yang memiliki saluran dan kondisi sosial serupa, dengan tetap memperhatikan fungsi utama irigasi serta kepentingan pengguna air lainnya. Perbaikan konstruksi kolam, pengawasan sumber air, kepadatan yang realistis, aerasi cadangan, dan pencatatan produksi menjadi syarat penting sebelum kegiatan diperluas.

Kontak  [email protected]